Thursday, April 7, 2011

Tukang Kayu


Seorang tukang kayu tua bermaksud pension dari pekerjaannya di sebuah perusahaan kontruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut kepada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada si tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk miliknya.

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia Cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya.

Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri karirnya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahan itu datang melihat rumah yang dimintainya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu“ katanya ”hadiah dari kami”. Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesal. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Itulah yang terjadi dalam kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan, kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadari sejak semula, kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkanlah rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup.

Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan.

Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi.

Hidup kita esok adalah akibat dari sikap dan pilihan yang kita perbuat di hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan.



Saturday, March 19, 2011





from

Live Full Lives' Daily Devotion‏






from
Live Full Lives' Daily Devotion
Purpose of Life


To be eagles that can fly high, I urge you to have a purpose in your life. The purpose of life that God has set for us is far greater than just happiness, prosperity and our personal satisfaction, greater even than family, career and our ambitions. Understand the purpose of our lives is very important, because:

1. Goals give strength

Dr. Ari Kiev from Cornell University observed that from the moment someone decided to concentrate his energies on a specific goal, they began to beat the hardest difficulty though, because the purpose gives strength.

2. Goals give meaning and satisfaction

Nothing is more satisfying than to feel that your life has a noble goal, and knowing that you're on a journey to create your dream to become true.

3. Purpose increase your potential

There was a survey that stated that the world was only 3% of people who make goals for their lives, which 97% did not. Apparently, a total of 3% of achievement was greater than 97% of people who do not make goal. Someone who lives with a clear objective, focus himself on the time, ability and resources to achieve his objectives.

When living with the aim provides enormous benefits, let us begin to set our goals. Although we have done in past years and have not succeeded, it was only a matter of time. Success will come to you. Do not give up; keep your goals set for the next day. God bless!

from
Live Full Lives' Daily Devotion‏



from

Live Full Lives' Daily Devotion‏


Tuesday, January 4, 2011

LIFE IS LIKE A PUZZLE


Kalau di sebagian orang hidup itu terdiri dari senang,susah,marah,sedih,dll. Sebagian orang menganggap hidup itu gada artinya dan ada sebagian orang yang maunya hidup itu senang terus dan gamau susah. Orang seperti ini sekalinya dapat masalah bakalan langsung down dan terhalang pertumbuhannya.


Puzzle itu terdiri dari berbagai macam warna dan bentuk. Tidak ada puzzle yang tiap potongannya memiliki bentuk yang sama karena itu tidak akan menghasilkan sesuatu dan hanya akan tetap menjadi potongan puzzle.

Kalian tau ga kalau hidup kita itu seperti puzzle. Tiap potongan gada yang serupa, kalau direfleksikan ke hidup kita, itu semua seperti masalah atau moment yang terjadi dalam hidup kita. Tuhan tau itu semua karena itu Tuhan ga pernah mengizinkan hidup kita senang sepanjang tahun atau susah sepanjang tahun karena itu sama sekali tidak mendidik kita.

Potongan puzzle dirangkai satu persatu oleh Tuhan agar menjadi "sesuatu" karya and you know guys that God always have that one last piece to make it perfect.

Satu tempat yang kosong untuk puzzle terakhir adalah hati kita. Dimana kita merasa kosong dan tidak sempurna tapi Tuhan itu baik, ia menaruh puzzle terakhir untuk membuat "Sesuatu" itu sempurna. Kalian tahu, puzzle terakhir itu adalah kasihNya Tuhan. KasihNya menutupi segala kekosongan kita dan membuat "sesuatu" itu menjadi karyanya yang indah dan bermakna.

Friends, Tuhan menganggap setiap puzzle dalam hidup kita itu berharga. Ia perlakukan dengan baik dan ia susun dengan telaten.

So, hargailah setiap moment yang terjadi dalam hidup kita seperti Tuhan menghargai hidup kita.